Jembatan Dunia

Dear Open Diary,

Di masa Produktif bekerja dulu, saya sempat melakukan kesalahan yang sangat fatal karena mengambil tindakan sembrono, serampangan, naif dan tidak bertanggung jawab. Saat itu kondisi saya memang labil, tidak suka diatur-atur, dan menjalankan segala-sesuatunya secara excessive. Tidak ada mentor atau guru, dan semua saya pelajari secara otodidak.

Hasil dari petualangan berakhir dengan buah penyesalan yang luar biasa dalam, terlalu banyak kegagalan, kehilangan, kekalahan, dan kebodohan-kebodohan baik secara moral maupun finansial. Sempat dalam satu masa 3 bulan saya tidak bisa berpikir apa-apa, hanya bisa pergi ke pantai dan duduk seharian memandangi laut, awan dan berbicara kepada diri sendiri, mengevaluasi apa yang sebenarnya sedang terjadi dan mengapa semua ini harus terjadi seperti ini?….Ntah di-titik mana perubahan itu terjadi, ada waktu perpindahan kepribadian dimana saya tidak menjadi saya lagi, satu lintas masa waktu sudah mengubah saya menjadi pribadi yang baru, lebih elegan, humble, bertanggung jawab dan hati-hati mengambil keputusan.

Setelah tahun berganti tahun dan move-on dengan masa lalu tersebut, saya banyak melihat kebodohan yang saya lakukan dilakukan orang lain, ke naif-an, ke-sembronoan, ke-serampangan dan perbuatan tidak bertanggung jawab yang pernah saya lakukan bagaikan sebuah jembatan literatur yang mengevaluasi setiap pribadi lain.

Hanya saja kadar, momentum, besaran, tensi dan tolak ukur lainnya yang dihadapi setiap pribadi dapat sengaja/tidak sengaja menjauhi titik equilibrium yang bisa dia hadapi sehingga banyak terlahir pribadi-pribadi yang berbuah putus-asa dan berkedok pasrah. ….Saat ini, ketika memandangi awan dan pantai, sedikitnya saya dapat merasakan denyut nadi penghuni dunia ini, merasakan sedikitnya kesedihan dan nestapa dari Jembatan Kedewasaan bagaikan terombang-ambing ombak di lautan yang tidak selalu bisa dipilih.

Dunia ini telah membuahkan dua senyuman bermakna berbeda untuk mereka yang dapat melintasi Jembatan dan mereka yang putus asa, namun pada akhirnya dunia ini hanya memberikan kesedihan yang sama pada semuanya yakni kematian.

Eldi Munggaran Juli 16 – 2021

Do’a

道が正しければ、祈りはいつも答えられます。 本当に、この世界は、正直だけがあなたを疑いを手放し、二度と戻らないように導くことができるようにプログラムされた真実をカバーしています。 正直な良心を持った魂だけが神を見つけるでしょう。

Doa akan selalu dijawab ketika jalannya benar. Sungguh dunia ini menutupi kebenaran dengan sangat terprogram sehingga hanya kejujuran nurani yang dapat mengantarkanmu untuk melepas keraguan dan tak pernah kembali lagi. Hanya jiwa yang jujur nuraninya yang akan menemukan-NYA.

Keimanan

Menurut saya, orang Beriman dan Kafir itu jumlahnya sangat sedikit, yang banyak itu yang bingung, orang yang bingung itu sering dikafir-kafirkan oleh sebagian orang yang [katanya] beriman dan dibodoh-bodohi oleh sebagian yang [katanya] kafir

Sampai saat ini saya masih suka mempertanyakan apakah orang-orang yang “katanya” beriman itu benar-benar beriman dan apakah orang yang “katanya” kafir itu benar-benar kafir, karena saya yakin sebagian dari mereka sebenarnya adalah orang-orang yang bingung juga tapi sosoan ngerti aja supaya disebut beriman/kafir supaya bisa masuk komunitas beriman atau komunitas kafir (baca: takut kehilangan teman dan diasingkan)

Sangat sulit untuk menilai seseorang itu benar-benar beriman dengan menggunakan logika, tapi menjadi sangat mudah apabila melihatnya dari tingkah laku-nya, karena mustahil seseorang yang beriman punya tingkah laku yang buruk meskipun kita tidak bisa mengatakan semua orang yang bertingkah laku baik adalah orang beriman (bisa saja dia memang dibayar untuk berbuat baik, atau sedang dipantau cctv)

Saya tidak perlu membuka rujukan, kitab suci, atau referensi apapun karena kesadaran akan hal ini sudah ada didalam diri/hati/pikiran setiap manusia yakni kesadaran ketika seseorang bertingkah laku baik secara tulus, maka itu adalah arti keimanan yang sesungguhnya.

Pantai adalah salah satu tempat favorit yang paling saya sukai karena kebebasan pribadi untuk melepas beban secara elegan untuk semua pribadi dan tidak mengenal identitas.

Suatu hari saya berdo’a agar sang Pencipta menaikan derajat diri saya karena jasad ini sudah sangat jenuh dengan keterbatasan yang nampaknya sudah tidak sanggup lagi untuk menampung buah pikiran yang terus lahir dari cahaya. Saya sadar Dia sudah memberikan saya mata yang berbeda, dan Dia juga memberikan se-utas tuas kontrol yang dapat meringankan perjalanan hidup ini sekaligus sebagai pengingat bahwa Dia dan saya tidak berjarak kecuali saya menganggapnya ada. Bahkan sudah tak terhitung waktu ketika Dia menyeret saya dari kegila’an dunia ini dengan tetap menepatkan kembali kepada jalur  yang benar meskipun terkadang saya melampaui batas, dan disinilah saya sadar bahwa Dia memang zat yang Maha pema’af.

 

Sudah terhitung 5 hari semenjak hari itu saya belum bisa menjawab satu bibit pikiran ini.

 

Seorang anak masuk sekolah, belajar sepanjang hari untuk berlomba dengan tuntutan untuk menjaga nasibnya di masa depan yang penuh tantangan, dengan muatan stress yang tinggi tersebut, sang anak berusaha meluangkan waktu untuk beristirahat, namun pandangan terhadap seorang anak yang sedang beristirahat saat orang tua bekerja adalah suatu kecaman moral, sehingga sang anak mau tidak mau membantu orang tuanya, suka atau tidak suka demi menjaga moral. Tingkat stress sang anak semakin memuncak sampai ke ubun-ubun, merusak arti dari moral itu sendiri, moral yang merampas hak beristirahat, moral yang merampas kebebasan menikmati waktu, moral yang tidak memberikan pilihan selain membela arti dari moral itu sendiri.

Begitulah anak-anak tak bermoral dicetak ke dunia ini………
……dan saya berharap orang tua tahu harus membawa anaknya kemana.

Sekian lama memperhatikan kepribadian manusia, saya mendapati banyaknya kekecewaan yang menjadi sumber depresi seseorang, pasalnya sumber depresi ini tergolong sulit bahkan sering kali tidak bisa digantikan/diobati sehingga acapkali yang bisa dilakukan hanya mengelus dada, lagi dan lagi, dari hari ke hari, masa ke masa.

Berikut contoh pribadi kekecewa-an yang saya temui:

  1. Memiliki orang tua yang tidak sesuai dengan keinginan
  2. Memiliki anak/keturunan yang tidak sesuai dengan keinginan
  3. Memiliki istri/suami yang tidak sesuai dengan keinginan
  4. Memiliki pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan
  5. Memiliki teman dekat yang tidak sesuai dengan keinginan
  6. Memiliki fisik yang tidak sesuai dengan keinginan
  7. Memiliki status sosial yang tidak sesuai dengan keinginan
  8. Memiliki inteligensi yang tidak sesuai dengan keinginan
  9. Memiliki nasib yang terlahir di tempat yang tidak sesuai dengan keinginan

…dan masih banyak alasan yang menjadi sumber depresi permanen.

Semua perangkap kekecewaan yang ada terkadang menjadi alasan untuk menganggapnya sebagai bagian dari bumbu kehidupan yang tidak bisa dilepaskan. Pada waktunya seseorang mungkin hanya termenung meratapi keadaannya, namun tak jarang merasa jengah dan muak sehingga mencoba lari dari kenyataan dan berharap kenyataannya berubah.

Saya tidak menyalahkan apalagi menghakimi semua keputusan mereka, karena itu semua itu bisa jadi sebuah jalan bagi seseorang sebelum menjadikan dirinya bijaksana, karena sejujurnya saya pun pernah mengalaminya dan akhirnya menjadikan depresi permanen ini menjadi sebuah lahan pelatihan, sebuah pelatihan yang tidak berujung untuk memahami segala yang kita lakukan menjadi tak terbatas.

 

Mata manusia terbiasa dalam nyaman kondisi fokus. Kondisi fokus adalah kondisi yang dipandang sesuai di zaman sekarang, ada beberapa orang yang menyadari kemampuan mata manusia yang lain namun pada umumnya mata manusia menyukai kondisi fokus.

Saya suka bermain-main dengan kondisi mata, selain fokus saya memahami kondisi parking yakni menempatkan pupil dan elemen mata lainnya dalam kondisi istirahat sehingga semuanya terlihat kabur, dan satu lagi frekuensi regresi yakni memperkuat warna tertentu menjadi tajam sehingga membentuk suatu objek.

Mata manusia normal cenderung bisa melihat sesuatu yang sudah terprogram sebagai objek, misalnya bola, lemari, kaca, pintu, jendela, dll. Semua objek selain itu akan direferensikan sebagai objek yang mirip. (e.g. mirip bola, mirip jendela, dll)

Melihat teknologi layar yang sudah sampai melebihi 400ppi sepertinya metode regresi sudah bisa diaplikasikan, namun proses distinct pixel akan mengalami masalah pemrosesan seleksi.

Saya menyadari adanya kesalahan metode distinct, ternyata prosesnya akan lebih mudah apabila menggunakan regresi langsung dari setiap framenya dengan menghilangkan titik-titik yang tidak bergerak, konsep yang mirip digunakan HDR/HHT namun hal ini hanya akan mengeliminasi benda atau makhluk halus yang tidak bergerak sehingga kita hanya bisa menunggu atau melakukan stimulus tertentu dan membuatnya bergerak sebelum observasi.

Sepertinya manusia harus mulai memberikan taksonomi baru untuk benda-benda dan makhluk-makhluk halus yang ditemukan agar bisa mengidentifikasi kompatibilitas energi benda halus atau metode komunikasi dengan mereka.

Banyak hal menarik seperti proses contain, inkubasi, konsolidasi antar energi, atau implikasi energi makhluk halus tertentu, misalnya dapat memanipulasi materi.

Dapat dibayangkan apabila kita sudah bisa sampai melakukan ekstraksi, inkubasi, contain dan transformasi energi kedalam medium tertentu yang dapat dikontrol melalui pikiran secara etherial, maka eksitasi materi dari energi yang terhimpun akan menjadi sangat kosmis.

Pikiran primitif saya merasa khawatir proses diatas akan terjadi suatu saat nanti, anehnya saya sering merasa bahwa inilah tujuan penciptaan manusia.

Hal yang pasti dalam proses kosmis yang terjadi di masa depan adalah fakta bahwa dunia kita tetap exists, sehingga dapat dipastikan kosmik yang terjadi bersifat linear tidak mengganggu ruang dan waktu saat ini.

Programmer zaman now diajak debat practical programming selalu ngebahas tools dengan sejibun konsep dan ujung-ujungnya ngeluarin pembenaran “karena tuntutan kebutuhan pekerjaan yang semakin besar dan kompleks”.

Ada cerita si user cuman minta form submit sederhana, dibikinnya-lah pake 3 tiers front/backend services disuntik Composer, Node, dan rupa-rupa CLI lainnya plus framework kekinian sampe lupa bahwa itu semua butuh SSH yang engga jalan di shared hosting, alhasil kudu sewa VPS dan berujung kemahalan karena musti bayar CPanel sendiri. Si user bingung kenapa after servicenya dia kudu bayar bulanan mehong amat, dan berujung si user malah pake google form. ?

Sehari dia pake tools A dan gembar-gembor the best, besoknya ganti B dan besoknya lagi C, terus dan terus begitu sampe pusing sendiri ?

Mainannya saban hari nyoba-nyoba front end/back end framework baru tapi ga pernah mikirin Scale, Distributed Programming, dan dikiranya semua Intrusion di-handle framework, begitu di-isengin blackhat kena deface bingung ga ngerti dan marah-marah di forum trus blacklist frameworknya dan begitu lagi dan lagi, ohmegod ?

Giliran startupnya ditawarin seed funding serta merta dituntut semua hal diatas dan mau ga mau belajar kilat kebut sebulan produksi dan dapat dipastikan stress tak menentu, alhasil ga deliver dan nyalah-nyalahin venture-nya jelek, ga ngerti value ?

Maka dari itu buat anak-anak IT baru janganlah keasyikan mainan tools/framework, belajar lah core-system, konsep dan management yang berimbang antara kebutuhan dan solusi. Kalau aplikasi jadi besar juga dipikirin supaya bisa scale baik front office maupun back office, kecuali kalo udah cukup puas kerja sama orang ya gpp deh

Dear Diary,

Dimalam ini, saya teringat acapkali saya mengunjungi taman Indi, saya melihat langit pengetahuan menjadi batas yang menyelimuti dimensi pengetahuan  yang lebih kecil, dalam bahasa dimensi ini kongruen disebut “kecil” karena sesuatu yang lebih besar dapat menaungi yang kecil, meskipun analogi ini kurang tepat, namun sudah cukup memuaskan dan cukup bisa diterima, pada dimensi ini saja.

Pada dimensi ini, intelektual dibagi menjadi 3 (diambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/August_Comte)

  1. Tahap teologis. Tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.
  2. Tahap metafisis. Tahap manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.
  3. Tahap positif. Tahap di mana manusia mulai berpikir secara ilmiah.

Saya menyayangkan kondisi dunia ini yang sepertinya hanya berputar pada volume yang tidak berkembang menjadi lebih besar karena difusi dari mutasi & revolusi yang sudah terjadi tidak pernah abadi. Ada beberapa pihak yang memang berusaha untuk mengabadikannya, namun kalah banyak dengan pihak yang takut berkembangnya sesuatu yang bersifat misteri.

Para penguasa Intelektual kosmik merasakan sebuah nilai lebih dari dimensi ini, namun karena perkembangannya hanya berdenyut tak berkembang membuat mungkinnya dimensi ini dilupakan, atau mungkin sudah?

Seharusnya saya tidak usah menaruh perhatian untuk menjadi bagian anggota yang menyelamatkan dimensi ini, ketidakpedulian adalah kebebasan. Namun haruskah dimensi ini diberi kesempatan ke-2 ?

Dear Diary,
Pada hari ini, saya diberi tahu tentang misteri bagaimana kembalinya jiwa ke masa lalu.

Teknis, teknis, dan teknis. Itulah yang menghalangi hubungan manusia dan Tuhan, selalu teknis. Padahal teknisnya semua dilakukan Yang Maha Kuasa, kita  hanya tinggal beriman. Salah satu fungsi Iman diciptakan yakni sebagai indra yang memudahkan segalanya ketimbang memahami teknis.

Ada 3 hal mandasar saat jiwa kembali ke masa lalu:

  1. Sesungguhnya dia tidak pernah benar-benar kembali ke masa lalu, melainkan ke versi dunia lain dimana dia mati dan dia di masa depan-lah yang menggantikan untuk hidup. Kamu pernah melihat orang mati suri?, dan bila kebangkitan mati surinya membuat memori ingatannya berbeda, dapat dimungkinkan dia berasal dari masa depan, itulah sebabnya seseorang yg mati suri seakan dapat menebak apa yg akan terjadi, namun ada pula jiwa yang mendapati keadaannya justru semakin memburuk sehingga menjadi gila. Perlu dipahami untuk bisa menggantikan posisi ini diperlukan jiwa yang besar karena akan meneruskan kehidupan dari jiwa yang sudah putus asa, atau celaka, atau cukup bijak untuk dipanggil yang maha kuasa.
  2. Apa yang terjadi dengan dunia di masa kini?, teknisnya sama, dia akan mencari jiwa di-dimensi parallel di masa depan, dan melakukan hal yang sama. (Catatan: Hal ini juga dapat terjadi pada orang pertama)
  3. Lompatan hanya dapat dilakukan dengan persetujuan sang penjaga waktu, sesungguhnya akan lebih mudah bila kamu memiliki restu-Nya.

Apakah perjalanan multi dimensi ini membawa jiwa ke tempat yang lebih baik?, jawabnya bisa ya atau semakin buruk, namun yang pasti jiwa ini sudah mendapatkan perhatian-Nya.

Ada banyak teknis yang menjelaskan lompatan waktu, namun segalanya akan lebih mudah dengan iman, niat, dan takwa.

Sekitar 6 tahun yang lalu saya mengikuti trend bertajuk “art of pick up”, buku yang baca waktu itu ditulis oleh Neil Strauss. Sebetulnya saya tidak pernah membaca keseluruhan buku tersebut, tapi loncat-loncat sesuai daftar isi yang menarik. Namun ada yang lebih menarik dari konten buku tersebut yakni prolog si Neil Strauss itu sendiri, “Preface” yang biasanya orang abaikan dan langsung menuju konten. Disitu Neil Strauss menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang tersesat setelah memahami semuanya, tapi bagaimana bisa?

Kita semua sering berpikir dalam kesendirian, kadang teringat suatu momen, kadang memikirkan pekerjaan, atau apa saja. Saya mungkin tidak sepintar Neill Strauss didalam ilmu “art of pick up”-nya, namun pada akhirnya saya hinggap pada pendirian yang sama, tersesat setelah memahami semuanya.

Didalam pribadi lelaki terdapat pintu asmara, yang memiliki warna yang unik dan wanita-lah yang dapat menggambarkan semua itu, sehingga menjelaskan mengapa sebagian besar hubungan dimulai oleh lelaki dan wanita hanya diam menunjukan pintunya dan memutuskan apakah pintu tersebut terbuka atau terkunci.

Masalahnya adalah jumlah dari pintu tersebut, tidak sedikit lelaki yang memiliki banyak pintu dengan beragam warna.

Sekitar tahun 1990-an, orang yang hendak membeli komputer tidak terlalu dipusingkan dengan spesifikasi yang biasanya hanya ada 2-3 model untuk dipilih, lain halnya sekarang atau setidaknya setelah bermunculannya komputer laptop, pc rakitan, mobile, dll, dimana kecenderungan orang untuk memutuskan mana yang akan dia beli menjadi begitu membingungkan dan kadang membuat frustasi. Ada beberapa orang yang tidak mau ambil pusing dengan membeli semuanya dengan spesifikasi yang “katanya” bagus dan pada akhirnya apa yang dia cari hanyalah sebuah pengakuan “hebat” karena dia memiliki alat yang tepat ketimbang kepentingan kebutuhannya sendiri.

Kefrustasian Neils Strauss tampak dengan tidak adanya jalan keluar kecuali dia mau menghipnotis dirinya sendiri, mendoktrin salah akan semua ilmu yang telah dia pelajari, tapi apa kata orang nantinya?

Sebagai seorang muslim, jalan keluar dari kefrustasian ini terlihat jelas, jalannya mungkin sulit dan berliku, namun tetap bisa diusahakan, selain itu ada hal yang sangat ingin saya ketahui yakni “apa yang kemudian Neil Strauss lakukan setelah 6 tahun yang lalu?”, “apakah ada orang yang lebih dulu menjawab  Preface-nya kah?” “seperti apakah jawaban versi dia?”