Seringkali saya merasa hidup benar beralasan kesalahan, maksudnya saya sering kali salah menindaklanjuti pekerjaan yang sedang dilakukan, tapi entah kenapa malah jadi betul, sehingga orang kadang berpikir kalau saya cukup pintar menyikapi suatu masalah, padahal apa yang saya lakukan sebelumnya merupakan kesalahan beruntung saja. Hal ini bukan hanya berpengaruh pada pandangan orang lain, tetapi juga pandangan terhadap diri sendiri yang sulit untuk mengambil keputusan di-lain waktu sehingga saya sering was-was untuk mengambil keputusan benar. Semisal sebelumnya saya mengambil jalan salah yang malah jadi betul, pertanyaannya apakah dikesempatan lain saya harus mengambil jalan yang pada saat itu saya yakini jelas-jelas salah ?, ataukah memutuskan mengerjakan dengan cara yang benar ?

Misal dulu saya pernah mau menjual sebuah produk seharga $25 dan penjualan berlangsung “biasa-biasa saja”. Kemudian saya sempat berpikir untuk menurunkannya menjadi $20 atau $15. Tapi saya salah menaruh angka menjadi $35 karena sudah malam (ngantuk !).

Besoknya, produknya laris manis….. WHATT ???!!!

Apa itu Key Generator ? (kalo bosenin sih skip aja yang ini)

Key generator merupakan aplikasi untuk membuat key dengan suatu formula tertentu (dirahasiakan pemilik), untuk digunakan dalam registrasi aplikasi. Misalnya kalau kita beli aplikasi, nantinya kan ada tuh registration key, nah disitu kita masukin nama/company dan key yang sudah diberikan vendor. Registrasi ini digunakan oleh vendor untuk menghindari produknya dari pembajakan (meski seringnya ada aja yang bocor, tapi setidaknya udah mengurangi lah).

Metode Key Generator Biasa

Ada key generator yang menggunakan nama dan formula untuk menghasilkan key, semisal aplikasi WinZip, kalau kamu meregistrasikan WinZip dengan nama “Joni”, maka key-nya akan menjadi 27382-75629 (contoh) dan kalau diregistrasikan dengan nama “Ucok”, maka key-nya akan menjadi 30291-74627.

Bagaimana si aplikasi tahu kalau key yang dimasukan itu valid ?

Nah ini dia……., metode key generator biasa melakukan validitas dengan cara memasukan fungsi key generator “seutuhnya” kedalam aplikasi konsumen, sehingga dengan mudah para cracker bisa mengintip formula dan membuat key generator yang sama dengan milik kita.

Jadi gimana donk supaya engga bisa susah dibajak / di’intip formulanya ?, disinilah saya mencoba membahas pembuatan key generator partial. Continue reading →

Keajaiban

Keajaiban, sesuatu yang diartikan manusia umumnya sebagai kejadian yang tidak biasa, tidak wajar, kadang terkandung unsur mistik, atau lain sebagainya. Keajaiban yang akan saya coba kemukakan merupakan pemaparan ilmiah.

Di alam ini terdapat banyak senyawa/unsur materi baik yang terlihat, tidak terlihat, dan yang spiritual. Materi yang terlihat misalnya tubuh kita, yang tidak terlihat misalnya gelombang, magnet, gaya gravitasi, sedangkan materi yang spiritual misalnya pikiran, perasaan, hasrat, pengetahuan, dan lain-lain.

Keajaiban disekeliling kita (yang sudah tidak disebut lagi keajaiban) terjadi dengan mengkombinasikan unsur/senyawa dengan unsur/senyawa lain, bisa 2 atau lebih, atau bisa juga kumpulan suatu unsur/senyawa yang sama dengan kadar tertentu. Keajaiban merupakan buah dari kumpulannya dengan racikan yang tepat seperti halnya seseorang memasak makanan. Sebagai contoh apabila kita mencampurkan air panas + bubuk kopi + bubuk susu kedalam cangkir, kita akan mendapati secangkir minuman yang bernama kopi susu. Manusia menganggap kopi susu bukan lagi suatu keajaiban karena kopi susu sudah umum diketahui banyak manusia. Seandainya kita meracik kopi susu didepan manusia purba, tentunya mereka akan melihat hal ini sebagai suatu keajaiban.

Dengan deskripsi diatas, saya menyimpulkan bahwa “Keajaiban merupakan kombinasi materi atau kumpulannya dengan kadar tertentu, memiliki makna dan tidak umum diketahui manusia lain”

Bagaimana cara kita membuat menemukan keajaiban lain ?

Seperti hal-nya seorang penemu yang berusaha menemukan sesuatu yang baru, dia beranjak dari materi-materi yang sudah ada, dengan meraciknya menggunakan pengetahuan yang dimilikinya, kadang dia mendapatkan kadar yang tidak tepat seperti yang diharapkan sehingga disebut penemuan gagalatau manakala dia berhasil dunia akan berkata bahwa racikan materi-materi tersebut sebagai penemuan baru.

Apakah hanya penemu saja yang dapat menciptakan keajaiban ?

Kadang keajaiban tercipta tanpa sengaja, beberapa diantaranya bahkan tidak disadari terjadi, seperti seorang penemu korek api yang sebenarnya dia pada waktu membuatnya tidak menyadari bahwa alat bantu untuk menyalakan api dengan menggunakan batang kayu dan racikan-racikan bahan kimia tertentu yang dia buat merupakan sesuatu yang baru.

Yang menarik : Manusia abad 21 cenderung mencari keajaiban materi fisik.

Materi spiritual jarang mendapatkan perhatian manusia untuk dicari keajaibannya, manusia abad 21 cederung menggunakan materi fisik untuk berusaha menciptakan keajaiban spiritual, contohnya musik+lagu, puisi, renungan, dan lain-lain.

Ada beberapa manusia yang secara tidak dengaja menemukan keajaiban spiritual didalam dirinya, mereka menyebutnya secara global “perasaan”, apa-apa yang dirasakan manusia secara spiritual kepada manusia lainnya akan dikemukakan kedalam kata “perasaan”. Keajaiban spiritual sangat lambat berkembang kemajuannya, terbukti dengan abstraknya pemaparan perasaan, contoh : sedih, senang, benci, hampa, indah, bosan, dan lain-lain. Tidak seperti materi yang dipaparkan secara gamblang dari unsur hingga senyawa-senyawa yang membentuknya (kita semua tahu kalau burger terdiri dari unsur daging+roti+sayur+mayonaise, sedangkan kita tidak pernah bisa mempaparkan unsur sedih).

Pertanyaan terbesar :
Dari materi-materi yang sudah manusia temukan keajaibannya sekarang ini (yang lebih mengarah ke materi fisik), apakah perkembangannya terhambat (baca:sudah jarang penemuan-penemuan baru ditemukan) karena manusia tidak seimbang mengembangkan antara keajaiban fisik dan keajaiban spiritual ?

Keinginan……

Setiap niat berupa “keinginan” itu terbesit didalam diri manusia, dibalik semua itu terdapat untaian-untaian pikiran baik yang logis atau yang tidak logis….

Logika jika A maka B, jika B maka C, akan membentuk silogisme jika A maka C.

Permasalahannya adalah pada kemajemukan premis yang cenderung mengatakan dirinya superior seperti :
Jika seseorang melakukan X, maka dia akan mendapatkan juara no.1
Adi dan Budi melakukan X
jadi siapa yang nomor satu ???, apakah dua-duanya ?, ataukah harus ada yang mengalah ?

Contoh lain…, misalkan seorang programmer aplikasi komputer ingin membuat program. Setelah merancang sana-sini, dia menginginkan aplikasi miliknya ditampilkan “ontop” dari aplikasi-aplikasi lain sehingga menjadi paling depan. Permasalahannya terjadi ketika ada programmer lain yang membuat aplikasi dengan niat yang sama….., jadi siapa yang aplikasinya paling depan ???

Kedua contoh diatas menggambarkan kelemahan logika manusia untuk memenuhi keinginannya. Namun usaha manusia berlanjut dengan menciptakan premis baru, misalnya : “Jika ada dua atau lebih juara 1, maka mereka diurutkan menjadi 1a dan 1b”, atau untuk contoh 2 : “apabila ada dua aplikasi yang ingin ditampilkan “ontop”, maka aplikasi yang kedua dijalankan akan lebih superior daripada aplikasi yang pertama”. Kita sebut saja solusi sementara ini sebagai solusi “Tambal Sulam”

Kembali ke permasalahan “Keinginan”
Apa yang terjadi ketika keinginan yang sedang kita perjuangkan ternyata tanpa sengaja memiliki premis superior yang majemuk dan mengalami tambal sulam menyerupai lingkaran tanpa henti ?, semisal :

1. Untuk bisa memulai usaha, kita butuh modal berupa uang. (Uang —–> Usaha)
2. Uang bisa didapat apabila kita memiliki usaha (Usaha ——> Uang)

Seperti inilah realita dunia yang sedang kita hadapi.
Si “Licik” akan membuat si “Bodoh” terus berputar-putar didalam lingkaran tanpa henti dengan membiuskan harapan “Tambal Sulam”. Lebih parahnya, si “Pintar” tidak bisa berbuat apa-apa karena dia dibawah kekuasaan si “Licik”.

Berita baiknya, terkadang terjadi anomali pergeseran lokasi si “Licik”, si “Pintar”, dan si “Bodoh”, anomali ini sering di istilahkan dengan “revolusi”

Berita buruknya, mereka yang statusnya telah bergeser, perlahan-lahan mengubah dirinya kedalam posisi semula, istilah hal ini adalah “evolusi”, dimana si “Bodoh” menjadi si “Pintar”, si “Pintar” menjadi si “Licik, dan si “Licik” menjadi si “Bodoh”.

Hingga kini, dinamika penggerak kehidupan manusia masih berputar-putar disini……

Pertanyaan terbesarnya :
“Apabila suatu saat manusia telah keluar dari dinamika penggerak tersebut…., akankah mereka masih dinamakan manusia ?”

Cerita yang sedikit lucu mengisahkan tentang obrolan antara pasien dan dokter gigi sbb :

Pasien : “dok…, gigi saya sakit, sudah saya tambal, tapi masih sakit dok…, sebaiknya harus diapakan ?”
Dokter : “coba saya periksa……”

sejenak tengok sana sini, tela’ah sana sini…., akhirnya si dokter mengakhiri pemeriksaannya…….

Dokter : “sepertinya gigi anda sudah terlalu keropos untuk ditambal…., saya tidak bisa memberikan saran lain selain dicabut, jadi bagaimana ?”
Pasien : “baiklah kalau memang yang terbaik dicabut, cabut saja pak…….”

……kemudian si dokter memulai operasinya, dengan sangat hati2 dia mencabut gigi sang pasien.
Berkat keprofessionalan sang dokter, operasi tersebut hanya berlangsung tidak lebih dari 2 menit saja, dan berakhirlah penderitaan sakit gigi si pasien….., kemudian si dokter dan sang pasien duduk kembali dan terjadilah dialog :

Dokter : “sudah pak…, ini satu gigi sudah saya cabut, biayanya 2 juta rupiah”
Pasien : “APAAA !!!, OPERASI 2 MENIT 2 JUTA RUPIAH !!!!, MAHAL AMATTT !!!!!”

Dokter : “Kalau bapak mau 2 minggu juga bisa pak…., lain kali gigi bapak ada yang sakit lagi, itu bisa saya atur….”
Pasien : “wah…, ga mau donk…., saya maunya cepet…….”

Dokter : “itu dia pak…., justru karena saya melakukannya dengan cepat dan professional, harga pencabutannya segitu…., apa bapak mau dicabut dua ratus ribu tapi operasinya 2 minggu ?”
Pasien : “ya ga mau lah……, tapi koq bisa mahal begitu sih ?”

Dokter :wah ceritanya bisa engga habis kalau mau dibahas semua pak….”
Pasien : “maksudnya “

Dokter : “coba bapak renungkan…, untuk jadi dokter spesialis membutuhkan sekolah hampir 10 tahun…, saya harus mengorbankan waktu, biaya, dan umur yang tidak sedikit…., selain itu saya harus membuka izin praktek dan biaya sewa tempat untuk praktek saya ditambah membeli peralatan yang mahal-mahal juga obat-obatan yang tidak sedikit, menurut anda, sebandingkah usaha saya selama 10 tahun untuk mencabut gigi anda dengan aman seharga 200 ribu saja ?”
Pasien : “oh…, iya juga ya pak…., saya mengerti sekarang….”

Begitulah kadang kita berasumsi terhadap sesuatu yang seakan-akan merugikan kita, padahal dibalik semua itu ada maksud yang terbaik untuk kita.

Pertanyaan yang harus kita coba renungkan : “Apakah ada pemikiran yang sejenis dengan masalah ini, yang sudah tertanam didalam kehidupan sehari-hari kita, sementara kita selalu menanyakan kenapa begitu sih ?, padahal semua itu sudah berjalan dijalan yang terbaik untuk kita (baca:kita sering mencoba merubah jalannya sehingga justru kita menyesal)”

Pengetahuan di jaman sekarang begitu kritis untuk disimpan. Rahasianya terletak pada subjek yang memiliki pengetahuan tersebut. Setelah pengetahuan terdifusi dan memiliki potensi, subjek bisa jadi tidak mengetahui nilai dari potensi pengetahuan yang dimilikinya sehingga memberitahukan kepada seseorang yang salah.

Kadang kita mempercayai seseorang, dengan memberikan pengetahuan-pengetahuan yang kita miliki, kita pastinya berharap agar suatu saat ada timbal balik yang positif, tapi bisa saja berbalik keadaan, seseorang itu berbalik menyerang kita dengan pengetahuan yang kita berikan. Bentuk penghianatan ini akan menciptakan penyesalan yang kemudian tumbuh menjadi arogansi monopoli pengetahuan (baca: dikonsumsi sendiri).

Jadi dimanakah keberadaan nurani sebenarnya ?
Apakah tertancap pada setiap insan, ataukah hanya dimiliki individu tertentu ?

Ada beberapa elemen yang menghimpun nurani manusia, yakni :

  1. Kesetiaan
  2. Pengorbanan
  3. Kasih Sayang

…..ketiganya akan membentuk kesatuan, sehingga dalam porsi yang dapat diukur membentuk angka 100%.

Berbicara mengenai pro dan kontra, siapa yang peduli dengan nurani ?, terkadang ketidakpedulian merupakan jalan menuju kebahagiaan. Dengan mempermainkan kesetiaan, melupakan pengorbanan dan menyampingkan kasih sayang bagi suatu individu dapat menjadi suatu modal untuk mendapatkan kesetiaan yang lebih besar, pengorbanan yang lebih banyak, dan kasih sayang yang lebih tinggi (contoh : perselingkuhan, penghianatan, atau prinsip kapitalis, materialis).

Yang menarik, ternyata nurani seringkali berada pada koloni-koloni, club, perkumpulan, atau organisasi-organisasi dimana individunya memiliki suatu tujuan yang terarah, sehingga membuktikan bahwa nurani begitu menonjol ketika melihat adanya persamaan kepentingan.

apakah nurani memang tidak dapat bersifat global ?, ataukah hanya keterbatasan manusia ?

Prinsip yang sempurna

Ada kawan saya yang punya prinsip:

“Saya percaya, tapi kalau ada yang lebih baik/benar, saya akan pindah kepercayaan….”

Dipikir-pikir, dia adalah orang yang realistis, sampai terbetik pertanyaan:

“Kalo ada prinsip yang lebih bagus dari prinsip ini, mau ganti prinsip engga?”