Moral Yang Hilang

0

Pantai adalah salah satu tempat favorit yang paling saya sukai karena kebebasan pribadi untuk melepas beban secara elegan untuk semua pribadi dan tidak mengenal identitas.

Suatu hari saya berdo’a agar sang Pencipta menaikan derajat diri saya karena jasad ini sudah sangat jenuh dengan keterbatasan yang nampaknya sudah tidak sanggup lagi untuk menampung buah pikiran yang terus lahir dari cahaya. Saya sadar Dia sudah memberikan saya mata yang berbeda, dan Dia juga memberikan se-utas tuas kontrol yang dapat meringankan perjalanan hidup ini sekaligus sebagai pengingat bahwa Dia dan saya tidak berjarak kecuali saya menganggapnya ada. Bahkan sudah tak terhitung waktu ketika Dia menyeret saya dari kegila’an dunia ini dengan tetap menepatkan kembali kepada jalur  yang benar meskipun terkadang saya melampaui batas, dan disinilah saya sadar bahwa Dia memang zat yang Maha pema’af.

 

Sudah terhitung 5 hari semenjak hari itu saya belum bisa menjawab satu bibit pikiran ini.

 

Seorang anak masuk sekolah, belajar sepanjang hari untuk berlomba dengan tuntutan untuk menjaga nasibnya di masa depan yang penuh tantangan, dengan muatan stress yang tinggi tersebut, sang anak berusaha meluangkan waktu untuk beristirahat, namun pandangan terhadap seorang anak yang sedang beristirahat saat orang tua bekerja adalah suatu kecaman moral, sehingga sang anak mau tidak mau membantu orang tuanya, suka atau tidak suka demi menjaga moral. Tingkat stress sang anak semakin memuncak sampai ke ubun-ubun, merusak arti dari moral itu sendiri, moral yang merampas hak beristirahat, moral yang merampas kebebasan menikmati waktu, moral yang tidak memberikan pilihan selain membela arti dari moral itu sendiri.

Begitulah anak-anak tak bermoral dicetak ke dunia ini………
……dan saya berharap orang tua tahu harus membawa anaknya kemana.

Leave a Reply