Life Integral

Sudah lama sejak saya mencoba untuk bisa mengatur kecerdasan emosional sendiri.
Berawal dari teknik matematika, integral yang menjadi landasan pemikiran ini.
Setiap satu diferensial akan menghapus konstanta, namun konstanta tersebut tidak akan kembali setelah integral.
Saya pernah ada di “atas” dan saat itu saya mencoba mengurai apa yang terjadi dibawah sana, mencoba mencari tahu
Kehidupan tanpa variabel
Kehidupan 1 dimensi
Hanya 1 konstanta

 

Apa yang saya dapatkan adalah sebuah keabsolutan, nilai intrinsik, kongkrit dan lugas.
Meskipun kaku, hukum tersebut lugas tak terbantahkan.

 

Konstanta hanya sebuah konstanta, yang digunakan oleh variabel pendukung, semenjak saat itu saya hanya menjadi seorang pengisi variabel. Saya memang tidak akan bisa diubah, namun saya bisa saja tidak digunakan karena mereka tidak suka nilainya.

Sekarang saya sudah mengerti arti dari sebuah konstanta, perjalanan menuju jalan pulang menggunakan integral dengan bantuan catatan kehidupan sebagai pengganti konstanta ternyata membuahkan konstanta dan variabel baru. Saya baru menyadari akan kenyataan ini, bahwa masa depan bisa bersifat diskrit terhadap lorong waktu, sepertinya ada sebuah kecenderungan bagi sebuah lorong waktu untuk menciptakan varians ketimbang nostalgia.

Sekarang disinilah aku, aku yang selalu baru, baik hari ini, esok, maupun lusa.
Perubahan dan ketetapan akan berjalan beriringan, mereka yang menapaki hanya salah satunya akan terhempas dalam penjara konstanta.
Beberapa pemikir menyebutkan kejadian ini sebagai nasib, takdir, keberuntungan, karma, dan lain sebagainya. Namun pahamilah bahwa itu semua mengambil andil dari apa yang kamu pilih.

Kebenaran Sejati?

Keturunan berdarah biru percaya bahwa karakter diturunkan melalui keturunan secara biologis/anak, sedangkan keturunan rakyat biasa tidak percaya.

Keduanya selalu mencari pembenaran dan akan selalu ada dua fakta yang menjadikan tidak pernah adanya kebenaran sejati.

Hingga kini kebenaran semu itu hanyalah kebahagiaan bagi mereka yang menganggap akan mendapatkan keuntungan dari sebuah premis.

Kebahagiaan?, menurutku hanyalah salah satu daftar candu yang membutakan dari kebenaran.

Kebenaran sejati?, siapa yang butuh itu?
Begitulah kata mereka yang sudah menjadi korban kecanduan, mereka membela induk semang akal budi mereka, kebahagiaan.

Tanpa mereka sadari kebenaran selalu berwajah dua, antara masa lalu dan masa depan. Dan kamu masih punya tempat diantaranya, masih punya waktu. Untuk menyadari apa yang sesungguhnya terjadi dan memaknai arti hidup ini diatas kebahagiaan.

Setelah kau bangun, dunia ini terlihat nyata sangat semu dan hampa.

Kemudian pernyataannya akan berganti, sanggupkah kamu?

Maha Kuasa

“Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah”

Tahukah bahwa kata ke-dua dari kalimat pengakuan diatas itu adalah sebuah filsafat tertinggi penciptaan manusia?

Dimana alasannya adalah:

“Tidak akan kuciptakan Jin & Manusia, selain untuk memenyembah-ku”
(QS. adz-Dzariyat: 56)

 

Duluuuuuuuuuuuuuuu banget, tidak pernah ada Dzat apapun, dunia ini ga ada, langit engga ada, bumi ga ada, mie goreng ga ada, internet apalagi, facebook juga ga ada alhhh pokoknya ga ada apa-apa dehhh.

Yang ada hanyalah Tuhan, satu, sendiri.

Tuhan yang maha kuasa, maha bisa, maha segalanya.

eits…
tunggu dulu….., maha kuasa kata siapa????
maha bisa kata siapaa???
maha segalanya kata siapaa????

kan….
kan…. yang ada cuman Tuhan doang….., kata siapa gitu Tuhan maha kuasa??, engga sah dong ahhh kalo ngaku sendiri mah……

Lalu bagaimana?

Kemudian Tuhan menciptakan Makhluk-makhluk dari mulai Malaikat, Jin, dan Manusia.
Tujuannya adalah untuk menyembah Dia, dan pada akhirnya Manusia HARUS menyembah dia.

Bagaimana caranya Tuhan membuat manusia agar HARUS menyembah dia?

Diciptakanlah Dunia, Surga, dan Neraka.
Dunia
Manusia lahir ke Dunia ini, dikasih pilihan untuk menyembah atau tidak menyembah.
Surga
Bagi manusia-manusia yang sudah menyembah Tuhan di Dunia, maka kewajibannya sudah selesai, mereka diberikan balasan untuk tinggal ditempat yang Kekal itu sebagai bukti bahwa “Tuhan memang benar maha Kuasa”

Neraka
Bagi manusia-manusia yang tidak menyembah Tuhan di Dunia, maka mereka akan dilempar ke Neraka, disana mereka akan menyembah Tuhan karena ingin lepas dari siksaan.
So………………
Pilihannya cuman dua:
1. Menyembah Tuhan di Dunia kemudian masuk Surga
2. Menyembah Tuhan di Neraka (dan berharap kemudian masuk Surga)

Pada akhirnya semua manusia akan menyembah Tuhan, tidak akan ada satupun insan yang bisa keluar dari Takdir penciptaan ini.

Monggo silakan memilih…..

“KUN FAYAKUN” (فَيَكُونُ كُنْ)
Begitulah bunyinya, dimana artinya: “apa yang Tuhan ingin terjadi maka terjadilah”

Statement atau pengakuan ini sepertinya cacat tanpa ada interferensi manusia. Maksud saya, kalau memang statement itu benar lalu bagaimana pembuktiannya?

Saya yakin ada insan yang memegang kuasa Tuhan untuk kun faya kun di bumi ini, karena tidak mungkin statement tersebut hanya bersifat “fashion statement”

Hari ini gue dapet email dari salah satu calon user yang mau beli license Software yang gue bikin 3 tahun yang lalu, gile tu web masih ada pelanggannya aja, hehehe.

Ternyata selama ini gue ninggalin bugs di aplikasi final yang gw compile dan Payment processor yang gue pake ternyata engga bilang-bilang nutup control panel form pembelian sehingga user engga bisa beli lewat dia, bah.

Memang ini nasib bermain Rambo Softwate Company, karena semuanya musti dikerjain sendiri dimulai:

  1. Riset Aplikasi
  2. Bikin Aplikasi
  3. Bikin Tutorial / How-To
  4. Memasang security ke aplikasi
  5. Membeli Domain + Hosting
  6. Memasang aktivasi security via web (menghindari pembajakan offline)
  7. Seting Email CEO, Admin, Sales
  8. Bikin Desain + Layout Web
  9. Daftar Payment Processor
  10. Me-link buy page ke Payment Processor tsb
  11. Mendaftarkan aplikasi ke Affiliates
  12. Membuat promosi, coupon code
  13. Melakukan update P.A.D pada tiap affiliates setiap ada update aplikasi
  14. Menjawab semua pertanyaan user

Fyuhhhh….

Untunglah bisnis yang lainnya sudah ditutup dan fokus satu ini saja, kalau banyak bisa gila sendirian.

Bukannya saya tidak menghormati panggilan sembahyang ini, saya hanya mengutarakan jujur perasaan saya yang merasa risih kalau suara adzan dikumandangkan, tapi saya punya alasan yang mungkin bisa dipahami. Meskipun begitu saya tetap respek dengan suara adzan, sebal bukan berarti tidak respek.

Analoginya seperti dulu, ketika saya masih kecil saya suka disuruh untuk makan, disuruh mandi, disuruh cuci tangan kaki sebelum tidur. Setelah dewasa ini saya tidak pernah lagi disuruh karena otomatis saya akan makan dengan sendirinya, mandi dengan sendirinya, singkatnya tahu mengatur waktu. Saya merasa sangat sebal ketika saya yang sudah dewasa ini disuruh makan, disuruh mandi, dan dikuliahi hal-hal kecil seperti itu dan saya yakin ini bukan datang dari sekedar kesombongan karena saya sudah “bisa”, tetapi kekecewaan “mengapa semua kedisiplinan yang sudah saya miliki harus diingatkan kembali ?”. Saya seperti tidak merasa adanya perbedaan antara dulu dengan sekarang, dulu disuruh-suruh, dan sekarang tetep disuruh-suruh.

INTINYA: Bagaimana caranya saya membuktikan bahwa saya punya kedisiplinan waktu shalat pada Tuhan kalau setiap saya mau membuktikan kedisiplinan saya terhadap waktu shalat selalu diingatkan dengan suara Adzan ?

Saya paham dan tetap respek bahwa suara Adzan akan mengingatkan seseorang yang mungkin sedang asyik mengerjakan sesuatu dan cenderung lupa sembahyang agar tidak lupa, karena hal inilah saya merasa sebal !, saya disejajarkan dengan orang yang lupa waktu.

Lalu bagaimana cara saya menyikapi perasaan saya seperti ini ?

Jalan keluarnya ternyata simple, setelah saya membaca beberapa hadist tentang kisah nabi, ada yang menerangkan bahwa sebaik-baiknya waktu orang melakukan shalat  adalah yang sebelum suara adzannya bunyi sudah ambil wudhu dan standby di Mesjid dan pada saat dia standby itu dia mendengarkan suara Adzan dikumandangkan  😀 bener juga yaaaaaaaa !!

Kalau saya mempersiapkan diri untuk standby sebelum suara adzannya dikumandangkan, saya tidak merasa sebal mendengarnya !

Akhirnya masalah hati ini selesai juga…….

Moksi yang Hilang

2010, sudah 25 hari beranjak semenjak hari tahun baru dan pada hari ini saya menyadari diri saya yang kehilangan arah. Perasaan mengerjakakan sesuatu yang hampa, makan hampa, hampir semua kegiatan saya lakukan demi Allah saja, tanpa mempedulikan apakah saya senang atau tidak meski terkadang saya menjadi lelah dan meninggalkan semuanya.

Saya bercita-cita untuk menjadi seorang penemu, pada bidang IPTEK, saya ingin melakukan riset mengenai management pengetahuan yang terdifusi, semacam artificial intelligence yang bisa terus belajar sendiri, tapi cita-cita itu terlupakan oleh rintangan hidup yang acapkali berusaha menempatkan saya pada kondisi didalam syarat, semisal apabila saya ingin memasak sup ayam maka saya harus membeli ayam, sayuran, dan bumbu ke pasar. Tapi tidak semudah itu !, saya dihimbau untuk mempelajari ayam mana yang bagus, sayuran mana yang baik, dan bumbu mana yang enak, dan saya juga harus menyiapkan uangnya yang saya tidak punya !, sehingga saya harus mencari uang terlebih dahulu. Untuk mencari uang saya harus bekerja, dan untuk bekerja maka saya harus mencari lowongan yang cocok antara kemampuan dan jabatan. Untuk masuk kerja saya harus terlebih dahulu melakukan testing, wawancara, dan probation, sampai akhirnya saya diposisikan menjadi pegawai tetap.

Dan…….. saya melupakan niat saya yang pertama : Makan sup ayam.

Menurut Richard Brodie, perhatian adalah separuh dari kesadaran, tapi menurut saya lebih dari itu. Entah bagaimana dunia dan masyarakat telah menciptakan alat-alat untuk cenderung melupakan manusia dari tujuannya dengan cara menginterupsi perhatian dan membuat perhatian benar-benar tertuju melupakan tujuan utama dengan suguhan kenyamanan terprogram dan/atau tujuan utama baru. Manusia hidup 24 jam sehari, 8 jam untuk tidur, 8 jam untuk bekerja dan 8 jam untuk melakukan hal lain. Intinya manusia normal hanya memiliki 8 jam waktu untuk membuat dirinya lebih mulia, namun apa yang terjadi ?, sedikit demi sedikit perhatian manusia diinterupsi dengan berbagai situasi basa-basi, perjalanan, tontonan, birokrasi, dan lain sebagainya.

Waktu manusia habis dalam perjalanan kerja sepanjang hari, habis oleh tontonan yang berulang kali dilihat tanpa menghasilkan buah pikiran baru, interupsi telepon genggam yang lucunya dapat memposisikan seseorang yang menelepon menjadi lebih penting ketimbang  yang sedang diajak bicara.

tapi syukurlah, kesadaran saya pada hari ini telah kembali…

Saya seringkali melihat orang disekitar saya memahami Agama hanya sebagai ritual, trend, atau bawa’an sejak lahir yang di titah-kan kepada dirinya tanpa adanya keinginan sendiri untuk mengeksplorasi kebenarannya dan beberapa orang berpendapat “semua Agama sama, mengajarkan kebaikan”.

Banyak juga yang menganggap Agama hanya bullshit, sebab tidak bisa dibuktikan secara Ilmiah, misalnya kehidupan setelah mati, mau gimana bukti’innya ?, mati dulu ?

Trus gimana donk ?

Nah…….., saya punya contoh lucu analogi yang mirip dengan hal ini.

Memandang hal ini mirip seperti Pria yang memilih calon Istri untuk dinikahi. Bagaimana Si Pria tahu kalau calon Istrinya perawan ??, dicoba dulu ???, HAH !!???

pastinya ENGGA DONK !

tapi bagamana cara tahunya ?, nah…… disinilah perjalanan seorang manusia yang berawal dari sekedar “percaya” untuk berjuang menemukan “keyakinan”.

Well, kita tidak bisa begitu saja menanyakan “Eh kamu perawan gak ?”, sama seperti orang yang menanyakan “Eh ini Agama bener ga ?”, melainkan kita harus memulai dari informasi terkecil yang ada, seperti siapa orang tuanya, silsilahnya, sekolahnya, kehidupan kesehariannya, temannya, dll. Agama juga sama begitu dimulai dari sejarahnya, pembawanya, konsep ajarannya, dll.

Misalkan si calon Istri hobi-nya clubbing, dugem sampai pagi, suka bercengkrama dengan banyak pria, yaaaaaaa…… bukannya saya men-judge wanita ini sudah tidak perawan lagi, tapi hal ini sudah menurunkan penilaian saya, dan saya akan mencari wanita lain yang lebih baik kredibilitasnya.

Sejujurnya saya tidak bisa menuliskan semua faktor pendukung yang bisa dilakukan untuk menguji apakah seorang wanita perawan atau tidak, menguji apakah suatu Agama benar atau tidak, karena blog saya ini pastinya tidak akan muat untuk menuliskan semua materinya.

Intinya : Jalan hidup setiap manusia berawal dari “Percaya” menuju “Yakin”

Ps.Anda masih ragu ?, apakah anda yakin kalau ibu anda adalah ibu yang melahirkan anda ?, mengapa anda begitu yakin sementara anda tidak pernah menyaksikan anda dilahirkan ? Pastinya anda meyakininya dari aspek informasi yang ada pada diri anda sendiri seperti dagu-nya mirip ibu, matanya mirip ayah, kulitnya sawo matang seperti ibunya, dll. Anda yakin kan ?, atau anda masih ragu ?, masih ragu dengan Agama anda ?, berjuanglah untuk Yakin, tidak hanya sekedar Percaya.

Hari ini saya akan menuliskan dua analogi fundamental mengenai “Persepsi” :

  1. Bagaimana lampunya bisa menyala kalau listriknya kurang ?
    Para ahli berpendapat bahwa bagian otak manusia modern yang bekerja hanya 5-6% dari kapasitas keseluruhan, yang artinya sisa dari 100-6 = 94% diatur oleh alam bawah sadar, tapi apakah ini fakta ?, atau hanya kira-kira saja? Sejujurnya saya berpendapat bahwa otak kita tidak bekerja banyak karena tidak dinyalakan, analoginya sama seperti lampu. Kalau 1 lampu butuh 50 watt, maka supply untuk menyalakan 10 lampu jelas harus 500 watt, begitu pula otak kita, kalau ingin bekerja lebih banyak, seharusnya  diberi konsumsi lebih banyak protein, dha, salmon oil, dll, karena sejujurnya bagaimana otak bisa bekerja tanpa energi ? seperti mobil tanpa bensin.
  2. Saya tahu karena saya gunakan
    Coba bayangkan apabila semenjak lahir kita tidak pernah melihat sinar apapun, apakah kita akan percaya bahwa kita punya mata ?, well….., maksud saya…… saya hanya berpendapat mungkin kita memiliki pengindera’an lain selain mata, peraba, penciuman, perasa dan pendengaran, hanya saja kita sudah “dibutakan” untuk tidak bisa menggunakannya.
    Para ahli sepakat akan adanya indra ke-6, dimana seseorang memiliki persepsi tentang sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, contohnya pemain basket, yang memiliki kemampuan untuk melempar sebuah bola agar tepat masuk kedalam keranjang, yang menjadikannya dia bisa “melihat” ke arah mana bola akan jatuh apabila dia mengamati orang lain melempar bola. Contoh lain misalnya si pemain basket tersebut terbiasa mendengar langkah kawannya yang bergerak di belakangnya, sehingga tanpa perlu dilihat dia bisa yakin mengoper bola, hebatnya dia bisa tahu pasti perbedaan langkah lawan dan langkah temannya. Yang saya yakini kemampuan persepsi ini terjadi karena seringnya latihan berulang-ulang, sehingga semakin memantapkan ketepatan si pemain basket baik melempar bola atau dimana posisi temannya hanya dari mendengar suara langkahnya.

Intinya :

Kalau kamu ingin menjadi lebih baik, makanlah selalu makanan yang bergizi dan bekerjalah secara tertib dan konsisten, karena kedua hal itulah yang akan membuahkan persepsi didalam diri manusia. Buah yang hanya bisa dipetik oleh manusia yang sehat dan suka bekerja keras.

ps. untuk beberapa orang, mungkin ini bisa menjelaskan mengapa hidupnya tidak pernah berubah, membosankan dan begitu-begitu saja dari hari ke hari.

Kemarin sore, tepat jam 14:30 saya turun dari kantor GSJ untuk pulang ke kantor SS1, jadwal mobil shuttle di Chevron saya lihat terpajang di dinding ruangan kerja ada 2 mobil available, dan saya segera meluncur karena takut ketinggalan.

Saya sempat mampir ke tandas sebelum akhirnya sampai di lobby.

Kemudian saya tanyakan ke security lobby apakah Shuttle ke SS1 masih dibawah atau sudah berangkat, dan mereka serempak bilang “sudah…, tadi sudah lewat”, yah………, memang salah saya juga kurang mengambil ancang-ancang lebih awal (sambil memandang jam tangan yang menunjukan pukul 14:40, 10 menit terlambat)

Mau tidak mau saya ke SS1 menggunakan busway, tanpa banyak pikir saya menerima kesalahan, yaaaa memang salah saya koq, saya terima, anggap saja ini pelajaran untuk mengambil ancang-ancang yang tidak terlalu mepet kalau mau naik shuttle, menunggu 5 menit lebih baik daripada ketinggalan……, begitulah omong-omongan yang muter di kepala saya.

……, berangkatlah saya menuju halte busway terdekat.

eeeehh….., diperjalanan menuju ke halte busway, sekononyong-konyong mobil shutte menyalip saya yang sedang berjalan…., HAH !!??, KATANYA SUDAH JALAN ?????, waduh……., gimana sih tu security ???, ah, ga bener nih, !@$@#%^&$^*&%*($%#@$@#

Saya sempat berpikir untuk mengetuk pintu mobil shuttle yang sedang berhenti di lampu merah, jarak antara shuttle dan saya hanya 6 langkah saja…, ya memang saya bisa naik, tapi ini tidak aman dan saya yakin di SOP Chevron hal ini akan menimbulkan pertanyaan berhubungan dengan safety, bukan hanya saya yang akan dipertanyakan, tapi supirnya, dan mungkin penumpang lain juga.

Sepanjang jalan menuju halte busway, di pikiran saya menggerutu kesal……., security sok tahu, inilah, itulah, dari mulai memaki sampai menyumpah berputar di pikiran saya.

Sesampainya di halte busway, saya beli tiket Rp 3.500, masuk, dan mengantri sambil panas-panasan, yang membuat saya lebih menggerutu lagi……., panas, kesal, dan capek.

Oke, marah saya sudah selesai, saya sudah ada di bus, bergelantungan dengan penumpang lain, saat itu penumpangnya tidak padat, tapi tidak ada bangku kosong, saya duduk menghadap kiri, melihat sepanjang jalan Thamrin, Sudirman……..

Di sepanjang jalan Thamrin dan Sudirman, saya lihat jalurnya begitu padat, macet, sementara bus ini kan jalannya khusus, tanpa macet, meski hanya berhenti sebentar-sebentar di tiap halte…., wah……, ada positifnya juga saya naik busway, coba kalau saya tadi naik shuttle, pastinya kejebak macet, membosankan.

Saat itu saya jadi malu hati, saya telah melupakan Tuhan, saya tidak mengira kalau semua cobaan ini sebenarnya baik untuk saya, saya seharusnya merasa beruntung tidak naik Shuttle, ini semua petunjuk yang dibungkus bersama cobaan untuk tidak mengotori pikiran saya dengan gerutuan & makian, merelakan apa yang sudah terjadi, dan berpikir kedepan sajalah.

Saya sempat berpikir kalau saya naik shuttle, apa yang akan terjadi ???, ya palingan saya menggerutu juga karna macet & berpikir kenapa tidak naik busway saja ya……, HahAHahAHahHA !, saya menertawakan diri saya sendiri.

Ini adalah pelajaran, dilain waktu kalau ada kejadian yang tidak menyenangkan lagi, saya seharusnya cenderung untuk berpikir kalau ini adalah petunjuk, cobaan, dan saya harus berpikir positif bahwa Tuhan selalu memberikan jalan terbaik. Dan supaya saya tidak lupa Tuhan, saya menyadari akan pentingnya ber-dzikir, menjaga hati saya supaya tidak kosong, liar mengambang dengan gerutuan-gerutuan yang saya sesalkan sudah mengotori pikiran saya.