Logical Impossibility

0

Keinginan……

Setiap niat berupa “keinginan” itu terbesit didalam diri manusia, dibalik semua itu terdapat untaian-untaian pikiran baik yang logis atau yang tidak logis….

Logika jika A maka B, jika B maka C, akan membentuk silogisme jika A maka C.

Permasalahannya adalah pada kemajemukan premis yang cenderung mengatakan dirinya superior seperti :
Jika seseorang melakukan X, maka dia akan mendapatkan juara no.1
Adi dan Budi melakukan X
jadi siapa yang nomor satu ???, apakah dua-duanya ?, ataukah harus ada yang mengalah ?

Contoh lain…, misalkan seorang programmer aplikasi komputer ingin membuat program. Setelah merancang sana-sini, dia menginginkan aplikasi miliknya ditampilkan “ontop” dari aplikasi-aplikasi lain sehingga menjadi paling depan. Permasalahannya terjadi ketika ada programmer lain yang membuat aplikasi dengan niat yang sama….., jadi siapa yang aplikasinya paling depan ???

Kedua contoh diatas menggambarkan kelemahan logika manusia untuk memenuhi keinginannya. Namun usaha manusia berlanjut dengan menciptakan premis baru, misalnya : “Jika ada dua atau lebih juara 1, maka mereka diurutkan menjadi 1a dan 1b”, atau untuk contoh 2 : “apabila ada dua aplikasi yang ingin ditampilkan “ontop”, maka aplikasi yang kedua dijalankan akan lebih superior daripada aplikasi yang pertama”. Kita sebut saja solusi sementara ini sebagai solusi “Tambal Sulam”

Kembali ke permasalahan “Keinginan”
Apa yang terjadi ketika keinginan yang sedang kita perjuangkan ternyata tanpa sengaja memiliki premis superior yang majemuk dan mengalami tambal sulam menyerupai lingkaran tanpa henti ?, semisal :

1. Untuk bisa memulai usaha, kita butuh modal berupa uang. (Uang —–> Usaha)
2. Uang bisa didapat apabila kita memiliki usaha (Usaha ——> Uang)

Seperti inilah realita dunia yang sedang kita hadapi.
Si “Licik” akan membuat si “Bodoh” terus berputar-putar didalam lingkaran tanpa henti dengan membiuskan harapan “Tambal Sulam”. Lebih parahnya, si “Pintar” tidak bisa berbuat apa-apa karena dia dibawah kekuasaan si “Licik”.

Berita baiknya, terkadang terjadi anomali pergeseran lokasi si “Licik”, si “Pintar”, dan si “Bodoh”, anomali ini sering di istilahkan dengan “revolusi”

Berita buruknya, mereka yang statusnya telah bergeser, perlahan-lahan mengubah dirinya kedalam posisi semula, istilah hal ini adalah “evolusi”, dimana si “Bodoh” menjadi si “Pintar”, si “Pintar” menjadi si “Licik, dan si “Licik” menjadi si “Bodoh”.

Hingga kini, dinamika penggerak kehidupan manusia masih berputar-putar disini……

Pertanyaan terbesarnya :
“Apabila suatu saat manusia telah keluar dari dinamika penggerak tersebut…., akankah mereka masih dinamakan manusia ?”

No Comments

Leave a Reply