Jembatan Dunia

0

Dear Open Diary,

Di masa Produktif bekerja dulu, saya sempat melakukan kesalahan yang sangat fatal karena mengambil tindakan sembrono, serampangan, naif dan tidak bertanggung jawab. Saat itu kondisi saya memang labil, tidak suka diatur-atur, dan menjalankan segala-sesuatunya secara excessive. Tidak ada mentor atau guru, dan semua saya pelajari secara otodidak.

Hasil dari petualangan berakhir dengan buah penyesalan yang luar biasa dalam, terlalu banyak kegagalan, kehilangan, kekalahan, dan kebodohan-kebodohan baik secara moral maupun finansial. Sempat dalam satu masa 3 bulan saya tidak bisa berpikir apa-apa, hanya bisa pergi ke pantai dan duduk seharian memandangi laut, awan dan berbicara kepada diri sendiri, mengevaluasi apa yang sebenarnya sedang terjadi dan mengapa semua ini harus terjadi seperti ini?….Ntah di-titik mana perubahan itu terjadi, ada waktu perpindahan kepribadian dimana saya tidak menjadi saya lagi, satu lintas masa waktu sudah mengubah saya menjadi pribadi yang baru, lebih elegan, humble, bertanggung jawab dan hati-hati mengambil keputusan.

Setelah tahun berganti tahun dan move-on dengan masa lalu tersebut, saya banyak melihat kebodohan yang saya lakukan dilakukan orang lain, ke naif-an, ke-sembronoan, ke-serampangan dan perbuatan tidak bertanggung jawab yang pernah saya lakukan bagaikan sebuah jembatan literatur yang mengevaluasi setiap pribadi lain.

Hanya saja kadar, momentum, besaran, tensi dan tolak ukur lainnya yang dihadapi setiap pribadi dapat sengaja/tidak sengaja menjauhi titik equilibrium yang bisa dia hadapi sehingga banyak terlahir pribadi-pribadi yang berbuah putus-asa dan berkedok pasrah. ….Saat ini, ketika memandangi awan dan pantai, sedikitnya saya dapat merasakan denyut nadi penghuni dunia ini, merasakan sedikitnya kesedihan dan nestapa dari Jembatan Kedewasaan bagaikan terombang-ambing ombak di lautan yang tidak selalu bisa dipilih.

Dunia ini telah membuahkan dua senyuman bermakna berbeda untuk mereka yang dapat melintasi Jembatan dan mereka yang putus asa, namun pada akhirnya dunia ini hanya memberikan kesedihan yang sama pada semuanya yakni kematian.

Eldi Munggaran Juli 16 – 2021

Leave a Reply